Register Confirmation

Already registered ?

No

REGISTER NEXT PROGRAM

AKSELNEWS

Peranan Kampus dalam Membangun Kemandirian Pangan Lokal
By Admin Akselerasi Inovasi Posted 11 Nov, 2016

Kampus memegang peranan penting dalam menciptakan model penyediaan pangan secara berkelanjutan. Hasil penelitian dan ragam kegiatan yang dilakukan baik oleh mahasiswa maupun dosen dalam memberdayakan masyarakat lingkar kampus dirasakan masih kurang memberikan dampak sosial dan ekonomi terhadapat masyakarat yang tinggal di sekitar kampus. Melihat permasalahan tersebut, Akselerasi Inovasi mengajak civitas akademika IPB untuk mengetahui permasalahan ini lebih dalam serta bersama-sama mencari solusi terbaik dalam pemberdayaan masyarat lingkar kampus. Bertempat di Galeri Inovasi RAMP IPB, Kampus IPB Darmaga, dua narasumber yang telah banyak berkecimpung dalam pemberdayaan masyarakat lingkar kampus yaitu Prof. Dr. Ir. Ervisal AM Zuhud, MS dan Alfi Irfan hadir dalam acara Diskusi Terbuka Akselerasi Inovasi (DUTA AKSI).

Alfi Irfan, founder dan CEO dari Agrisocio serta CEO PT Global Inovasi Hijau membagikan pengalamannya dalam menciptakan produk dan jasa pertanian komersial dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan serta kegiatan pemberdayaan penduduk desa melalui pertanian berkelanjutan. Agrisocio lahir karena terinspirasi oleh Pak Ansor yang mengembangkan pertanian non organik di Cibanteng. Agrisocio merupakan sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pertanian dan turun ke desa dengan sentuhan entrepreneurship. Hingga saat ini Agrisocio memiliki 17 desa binaan yang mengelilingi kampus Institut Pertanian Bogor. Salah satu desa yang dibina adalah desa Benteng dimana masyarakatnya diajak untuk membudidayakan rempah-rempah. Hasil panen diproses oleh ibu rumah tangga dari keluarga petani. Hasil dari desa Benteng ini adalah produk indorempah, produk minuman instan yang terbuat dari jahe merah, cengkeh, kayu manis, cabe jawa, lada hitam dan bunga lawang dengan gula pasir dan gula aren.


Tujuan pemberdayaan ini adalah adalah mengubah mindset masyarakat indonesia dari petani biasa dimana sangat identik dengan aktifitas mencangkul, panas-panasan, kotor dan tidak menarik menjadi sosok petani yang keren dan membanggakan seperti petani di luar negeri. Pemberdayaan ini juga mengubah mindset mahasiswa yang awalnya tidak memiliki ide bekerja apa di bidang pertanian, menjadi banyak ide dan tahu harus bekerja apa di bidang pertanian. Perbedaan cara pandanga terhadap petani di Indonesia dan di luar negeri membawa Agrisocio bersemangat untuk merubah paradigma tentang petani dan pertanian di Indonesia menjadi lebih keren. Untuk mewujudkan hal tersebut, petani memerlukan hal utama yaitu Pendidikan. Saat ini, IndoRempah telah tersertifikasi manajemen mutu ISO 9001:2008, hal tersebut berarti sistem manajemen Agrisocio dan PT Global Inovasi Hijau sudah terstandar nasional.

Faktor penting untuk sustaine dalam bisnis yang pertama adalah menemukan market atau pasar. Wirausahawan harus pintar membaca pasar, produk apa yang sedang banyak dimininati konsumen, apakah masih cukup kompetitif, apakah pasar sudah jenuh? Internet menjadi hal yang tidak bisa diabaikan lagi, riset pasar dapat dilakukan melalui halaman pencarian/perambah seperti google. Faktor kedua adalah produk, jika produk yang akan dijual adalah produk yang sudah banyak dipasaran maka anda harus memiliki produk yang berbeda dan lebih menarik. Misalnya berbeda dari sisi rasa (level pedas, varian rasa), kemasan yang menarik atau menambahkan informasi asal produk agar konsumen memiliki kedekatan emosional dengan petani. Faktor penting lainnya adalah capital atau sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber dana. Kenali karakter orang yang akan diajak bekerjasama, komitmen yang besar untuk memulai usaha akan sangat menentukan keberhasilan usaha. Saat ini pemerintah melalui beberapa kementrian banyak menyalurkan dana untuk UMKM, siapkan proposal bisnis yang baik untuk mendapatkan dana tersebut. Disamping itu dana CSR melalui lomba-lomba start-up bisnis juga dapat dijadikan sebagai modal awal usaha.

Dengan beragam usaha yang dilakukan Alfi Irfan untuk memberdayakan masyarakat lingkar kampus tidak mengherankan jika alumni Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB telah banyak meraih prestasi baik tingkat nasional maupun international. Diantaranya adalah peraih Young Social Entrepreneur di Singapura serta yang paling baru Alfi Irfan menerima penghargaan pemuda pelopor, peringkat 1 Bidang Pangan dari KEMENPORA.

Sesi kedua DUTA AKSI menghadirkan Prof. Dr. Ir. Ervisal AM Zuhud, MS, atau dikenal dengan Prof. Amzu, beliau merupakan guru besar Fakultas Kehutanan IPB dengan bidang kepakaran konservasi biodiversitas tumbuhan hutan. Prof. Amzu memprakarsai berdirinya kelompok kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia yang keberadaannya sangat mempengaruhi kebijakan jamu dan tumbuhan obat Indonesia dan merupakan inovasi 106 Indonesia mengenai databse tumbuhan obat Indonesia. Prof. Amzu menekankan pentingnya pertanian dalam kehidupan masyarakat. Semua masyarakat dari berbagai kalangan sangat membutuhkan hasil pertanian, tanpa pertanian tak akan ada kehidupan. Oleh karena itu pertanian harus terus dikembangkan.

Pangan sebagai produk pertanian sangat bersaing antara produk global dan lokal. Masyarakat sekarang banyak yang lebih senang dengan pangan-pangan global. Produk-produk pangan global biasanya dibuat dari bahan baku yang sangat bergantung pada impor. Masyarakat perkotaan lebih bangga dengan produk pangan global membuat masyarakat desa terpengaruh sehingga produk pangan global lebih diminati banyak orang. Dampak buruknya, saat ini banyak orang yang bermasalah dengan kesehatan akibat apa yang dimakannya. Perubahan gaya hidup utamanya dari perubahan apa yang dimakannya yang membuat masalah kesehatan tersebut muncul. Prof. Amzu memberikan pesan yang sangat menarik:

“We are, what and how we eat
We must make the food is medicine and but medicine is not food.
Know your farmer know your food.
Think local food.
Shop, eat, support, enjoy local. To develop the local food.”

Makanan lokal tentu akan lebih sehat, terjamin kualitas, dan tentunya sangat cocok dengan kondisi orang Indonesia. Banyaknya penyakit yang bermunculan mengembalikan mindset masyarakat untuk menjalani kehidupan dengan pola sehat. Masyarakat disadarkan bahwa produk pangan lokal Indonesia merupakan pangan yang sehat baginya. Hirarki diawali dari kampung kemudian ke desa hingga negara. Kita sebagai warga pertanian, kampus rakyat nusantara, kampus bhineka tunggal ika harusnya mampu mendidik karakter untuk berpikir lokal. Aktivitas keseharian, aplikasi keilmuan dalam masyarakat dan budaya kampus harus dipertanggung jawabkan sebagai ilmuwan dan alumni IPB kepada Tuhan Yang Maha Esa dan anak bangsa.

Adanya ancaman penyempitan lahan pertanian karena nilai tambah produksi pertanian kalah bersaing dengan properti, menunjukkan bawwa pemasaran produk pertanian belum terbangun mutualis dengan kampus. Masyarakat 17 desa lingkar kampus (sekitar 127.000 jiwa) adalah keluarga IPB dan tetangga terdekat, umumnya kapasitas SDM-nya masih lemah. Padahal mahasiswa IPB yang berjumlah ribuan merupakan aset yang sangat strategis untuk memasarkan biodiversitas dari desa lingkar kampus berupa sayur-sayuran, buah-buahan, dan sumber protein hewani. Masalah utama yang dimiliki mahasiswa IPB adalah pola hidup sehat dan mandiri, pola makan sehat dan berkecukupan, tersedianya air bersih, bahan obat alami yang menyehatkan serta lingkungan hidup sehat.  Untuk itu harus dipersiapkan konsep kampus biodiversitas yang terintegrasi baik aspek kesehatan fisik, intelektual, karakter, sense of nation and human, sikap dan utamanya aspek moral. Prof. Amzu dalam orasi guru besar menekankan bukan lagi tentang diversifikasi pangan tetapi rediversifikasi pangan, yaitu kembalikan keanekaragaman sesuai dengan tempat asalnya, sesuai karakter masyarakatnya. Kita belajar bukan demi ilmu pengetahuan melainkan demi kehidupan. IPB sebagai pengemban amanat IPTEKS memiliki tanggungjawab besar untuk mengelola sumber daya mulai dasar laut, dalam tanah sampai puncak gunung atmosfer.

Download materi presentasi DUTA AKSI disini: