Baca Juga

spot_img

Hiyung, Cabai Terpedas di Indonesia Ada di Kalimantan (2)

Cabai hiyung diperkirakan ada sejak 1993. Berawal dari seorang petani bernama Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa tetangga, yaitu Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin.

SEBELUMNYA, wilayah Desa Hiyung didominasi oleh lahan gambut, sehingga membuat wilayahnya kurang subur dan selalu gagal jika ditanami padi. Selain itu, juga banyak hama yang muncul.

Kondisi tersebut membuat warga sekitar pasrah. Namun, langkah Soebarjo yang membawa bibit cabe dari desa sebelah itu menjadi jalan keluar.

Bibit itu berhasil ditanam dan membuat cabe yang dihasilkan memiliki tingkat kepedasan yang tinggi.Sejak saat itulah, masyarakat sekitar beralih menjadi petani cabe.

Pertumbuhan cabe hiyung pun sangat berkembang pesat. Hal tersebut memunculkan sebuah perkumpulan yang diberi nama Asosiasi Cabe Rawit Hiyung di daerah tersebut.

Asosiasi tersebut diketuai oleh Junaidi. Ia menyebutkan bahwa masyarakat bisa menghasilkan 2 ton cabe per masa panen sebanyak 30 kali dalam satu tahun. Harga tertinggi cabe ini mencapai Rp 70 ribu-Rp 90 ribu per kg.

Harga di pasaran bisa lebih mahal dari harga tersebut. Keuntungan itu juga bersamaan dengan masyarakat luar yang tak henti memesan cabe hiyung dari para petani di Desa Hiyung.

“Saya sekarang punya sedikitnya 35 pelanggan. Itu dari pengepul, pengecer, dan rumah makan. Kalau lokasi pemesannya dari Kalimantan Selatan sampai daerah Jawa juga ada,” ungkap Junaidi. (*)

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait