AKSELERASI – Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Berburu dan Menembak Indonesia (Perbakin) Kalimantan Timur (Kaltim) Roy Nirwan mengaku, cabang olahraga (cabor) menembak Kaltim masih minim pelatih, khususnya pelatih bersertifikat nasional.
Saat ini, justru para atlet senior yang kerap membimbing junior mereka. “Padahal kami perlu pelatih yang betul-betul pelatih nasional yang berada di kualifikasi terbaik untuk melatih atlet-atlet lokal Kaltim,” ujarnya.
Roy Nirwan mengatakan, masukan ini pun sudah diajukan ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim maupun Desan Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim. Akan tetapi, wacana tersebut kemungkinan baru bisa terealisasi tahun depan.
Dia meminta, untuk penyediaan pelatih bersertifikat nasional tidak bisa hanya untuk jangka pendek. Pengprov Perbakin Kaltim tentu membutuhkan pelatih untuk membina para atlet dengan minimal waktu satu tahun.
Roy Nirwan menyatakan, prestasi dalam olahraga tentu butuh proses yang panjang. Makanya, diperlukan pula SDM yang mumpuni untuk mewujudkan kesuksesan ini. “Untuk regenerasi sudah bagus, atlet-atlet kami sering juara di tingkat nasional. Ini buah dari pembinaan kami sejauh ini,” bebernya.
Sementara itu, proses pembinaan atlet di cabor menembak memang berjalan baik. Terbukti, penembak muda kerap dipercaya tampil di kejuaraan tingkat regional maupun nasional.
Kendati begitu, Pengprov Perbakin Kaltim nyatanya masih punya kendala. Salah satunya, dari sisi sumber daya manusia (SDM) atau pelatih yang mumpuni. Roy Nirwan menjelaskan, situasi ini masih menjadi pekerjaan rumah baginya. Ditambah, para atlet yang masih belum beruntung untuk menjajaki panggung PON XXI/2024 Aceh dan Sumatra Utara (Sumut).
“Karena gapnya masih terlalu jauh, antara anak-anak yang ikut binlat (pembinaan dan latihan, Red.) di Jakarta dengan yang belum bisa ikut. Ini juga jadi PR (pekerjaan rumah, Red.) saya,” paparnya.
Makanya, dia berharap adanya dukungan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim maupun Desan Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim untuk kendala pembinaan atlet ini. “Terutama, dari segi penyediaan pelatih yang andal untuk mengasah atlet-atlet lain yang belum mengikuti binlat,” tandasnya. (adv)
