Keberadaan cagar budaya saat ini sangat minim atensi dari generasi muda. Namun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Klaimantan Timur punya cara mendekatkan mereka terhadap warisan sejarah.
KEPALA Bidang Kebudayaan, Disdikbud Kaltim, Robiana Hastawulan, mengatakan cagar budaya merupakan hal yang harus diketahui generasi muda. Sebab, lewat hal itulah mereka bisa meningkatkan kepekaan untuk menjaga dan melestarikan sesuatu yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.
“Mengenalkan secara langsung cagar budaya kepada generasi muda sangat penting untuk mengenalkan berbagai potensi. Apalagi penjelajahan cagar budaya diinternalisasikan dalam bentuk edukatif-kultural, relatif, produktif dan inovatif,” katanya, beberapa waktu lalu.
Menurut Robiana Hastawulan, di Kota Balikpapan –misalnya– banyak sekali ditemukan cagar budaya yang bisa dikenalkan kepada generasi muda. Diantaranya Tugu Mahakam Jepang, Bunker Jepang Persatuan, Bunker Jepang PT. Rimex, meriam Jepang Markoni, Rumah Lengkung, Makam Aji Kerta Intan Gunung Kemendur, Meriam Jepang Sidodadi, Rumah Panggung Dahor 1, Museum Kodam Mulawarman dan Tugu Perdamaian Kilometer 13.
Meski begitu, Robiana Hastawulan menerangkan, dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, disebutkan secara tegas bahwa program pelestarian cagar budaya mengakup lima tujuan.
Pertama melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia. Kedua meningkatkan harkat dan martabat bangsa memalui cagar budaya. Ketiga memperkuat kepribadian bangsa. Keempat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kelima mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.
“Kaltim adalah daerah yang memiliki masyarakat heterogen dengan baragam suku, baik suku asli maupun pendatang memiliki ragam kekayaan budaya,” ujarnya.
Kutai, lanjut Robiana Hastawulan, sebagai suku asli dengan kerajaan tertua, kaya akan aspek sejarah dengan situs-situs dan benda-benda cagar budaya. Sedangkan Dayak yang memiliki beragam suku kaya dengan adat istiadat, ritual, dan kebiasaan yang secara turun-menurun telah mengakar membudaya. “Ini merupakan sumber kekayaan budaya yang tidak ternilai,” tururnya. (fai/adv)
