AKSELERASI.ID, Samarinda – Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) melalui Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), menggelar pelatihan pembuatan dan praktik penanaman pohon. Menariknya, media yang digunakan adalah cocoon.
Berlokasi di Kampung Ketupat, Jalan Mangkupalas, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, kegiatan ini dilaksanakan Kamis (17/9/2026), pukul 09.00 Wita hingga 12.00 Wita. Sebanyak 20 warga dari Rukun Tetangga (RT) 12, RT 14, RT 20, dan RT 21 Kelurahan Mesjid, berpartisipasi di kegiatan ini.
Pelatihan pembuatan dan praktik penanaman pohon ini dilaksanakan sebagai upaya Polnes memperkenalkan teknologi sederhana yang dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman. Khususnya dalam proses penanaman pohon di lingkungan masyarakat.
Media cocoon menjadi salah satu alternatif yang diperkenalkan. Sebab memiliki kemampuan untuk membantu mempertahankan kelembapan dan ketersediaan air di sekitar tanaman.
Cocoon merupakan media yang dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan bersifat biodegradable. Bahan utama yang digunakan antara lain bubur kardus bekas, kompos dari sisa makanan, serta lilin lebah.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut tidak hanya menjadi alternatif dalam mendukung kebutuhan air tanaman. Tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pemanfaatan kembali material yang tersedia di sekitar masyarakat.
Materi pelatihan pembuatan dan praktik penanaman pohon dengan cocoon disampaikan oleh Muhammad Ardi, S.T., M.T., Angga Syaputra, S.T., M.T., M.Ds., Gading Bagus Mahardika, S.T., M.T., dan Agung Prabowo, S.T., M.T. Mereka yang merupakan dosen muda Polnes. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut melibatkan 8 mahasiswa dari Jurusan Teknik Kimia dan Teknik Mesin Polnes.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai teknologi cocoon. Mulai dari konsep dasar, bahan yang digunakan, hingga penerapannya dalam kegiatan penanaman pohon. Setelah penyampaian materi, peserta kemudian diajak untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan cocoon. Mereka didampingi langsung tim dosen dan mahasiswa.
Menariknya, proses pembuatan cocoon dapat dilakukan menggunakan peralatan yang umum ditemukan di dapur. Bahan-bahan utama terlebih dahulu dicampurkan hingga membentuk adonan yang sesuai. Kemudian dicetak menggunakan loyang kue. Setelah dicetak, bahan tersebut dipanggang menggunakan oven hingga menghasilkan media cocoon yang siap digunakan.
Setelah proses pembuatan selesai, peserta bersama tim pengabdian langsung mengaplikasikan cocoon dalam praktik penanaman pohon di lingkungan sekitar Kampung Ketupat. Praktik ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memahami secara langsung cara penggunaan media cocoon. Sekaligus memperlihatkan penerapan teknologi sederhana tersebut dalam kegiatan penghijauan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Polnes tidak hanya memperkenalkan inovasi sederhana kepada masyarakat. Namun juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon. Pengenalan teknologi cocoon diharapkan dapat menambah wawasan. Pun keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh sekaligus mendukung keberlangsungan tanaman setelah proses penanaman.
PKM ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Polnes dalam menerapkan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi. Tujuannya agar dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat juga diharapkan dapat terus dikembangkan. Yakni melalui kegiatan-kegiatan lain yang mendukung pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan teknologi sederhana yang berkelanjutan.
H. Abdul Azis, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Ketupat Warna Warni, menyampaikan apresiasi untuk kegiatan pelestarian lingkungan ini. “Harapannya, dari pelatihan ini, ke depan akan terus berkembang pemahaman masyarakat terhadap pembuatan cocoon sebagai alternatif media tanam. Tentunya ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kampung ketupat,” katanya. (*)
