Home BERITA KALTIM Kades Kandolo Dorong Kebangkitan Aren, Komoditas Lokal yang Terpinggirkan

Kades Kandolo Dorong Kebangkitan Aren, Komoditas Lokal yang Terpinggirkan

0

Banner Pemerintah Kabupaten Kutai Timurr

AKSELERASI, KUTIM – Di hamparan tanah subur Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur, berdiri tegak pohon-pohon aren genjah—tanaman lokal dengan sejarah panjang dan nilai ekonomi tinggi. Namun di balik potensi besarnya, nasib komoditas ini justru terancam akibat berkurangnya petani dan rendahnya minat generasi muda.

Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, menegaskan bahwa aren bukan sekadar warisan pertanian, tetapi tulang punggung ekonomi desa yang telah menembus pasar nasional.

“Kami punya UMKM berbasis aren yang produknya sudah masuk marketplace. Gula semut, gula cetak, jahe merah—itu semua hasil dari tanaman ini,” ujar Alimuddin, belum lama ini.

Namun ia juga menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, semakin sedikit warga yang menekuni budidaya aren, karena tergiur pada komoditas sawit yang dianggap lebih mudah dikelola.

Padahal secara produktivitas, aren genjah tak kalah unggul. “Kalau orang punya sawit 10 hektare, 1 hektare aren itu mampu menyamai hasilnya,” tegasnya.

Aren genjah sendiri merupakan varietas unggulan yang dilepas resmi oleh Kementerian Pertanian pada 2011. Keunggulannya terletak pada masa produktif yang lebih cepat, mulai menghasilkan nira pada usia 5–6 tahun. Tanaman ini juga multifungsi—selain nira untuk gula, bagian lain seperti ijuk, lidi, dan kolang-kaling bernilai ekonomi.

Di Desa Kandolo, tanaman ini dulu tumbuh liar di hutan. Berkat kerja sama antara petani dan Dinas Perkebunan, serta pendampingan dari peneliti Manado, aren genjah berhasil dibudidayakan menjadi komoditas andalan.

Namun, data di lapangan menunjukkan hanya 18 petani yang masih bertahan. Sebagian besar berusia 40 tahun ke atas, dengan keterbatasan tenaga dan akses pasar.

“Permintaan cukup tinggi, tapi kami kewalahan menyadap dan mengolahnya. Anak muda sekarang lebih memilih sawit atau menjual bibit saja,” kata Sakka, salah seorang petani aren di Kandolo.

Melihat tantangan ini, Alimuddin mendorong keterlibatan pemerintah dan pelaku industri agar lebih serius mendukung revitalisasi komoditas aren. Ia juga membuka ruang kolaborasi melalui pengembangan UMKM, gerai wisata produk lokal, hingga pelatihan pertanian bagi pemuda desa.

“Kami tidak bisa kerja sendiri. Kalau ada dukungan nyata, aren ini bisa kembali jadi kebanggaan Kutim, bahkan Kalimantan Timur,” tutup Alimuddin. (ADV)

Exit mobile version