
AKSELERASI, KUTIM – Harapan baru tumbuh dari tanah subur yang lama terbengkalai di Desa Kandolo, Kabupaten Kutai Timur. Di tengah keterbatasan anggaran, desa ini mulai mengambil langkah mandiri untuk menghidupkan kembali lahan tidur seluas 60 hektare demi memperkuat ketahanan pangan warganya.
Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, mengungkapkan bahwa meskipun saat ini baru sekitar 20 hektare lahan yang ditanami padi secara aktif, potensi perluasan sawah masih sangat besar. Menurutnya, program percetakan sawah dari pemerintah provinsi yang sempat berjalan beberapa tahun lalu kini tak lagi berlanjut.
“Untuk sawah itu masih ada sekitar 60 hektare yang belum diapa-apakan sama sekali,” ucapnya saat ditemui di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara.
Inisiatif desa untuk menggerakkan penanaman padi dilakukan secara bertahap dan mandiri. Namun, keterbatasan alokasi Dana Desa (DD) menjadi penghambat utama. Banyaknya aturan penggunaan membuat desa tidak leluasa menjalankan program yang dianggap vital oleh masyarakat.
“Dana desa itu sudah banyak peruntukannya, dan SPJ-nya juga ketat. Padahal kebutuhan masyarakat bisa lebih mendesak daripada yang diatur dalam regulasi,” jelas Alimuddin.
Meski demikian, semangat swadaya warga tetap menyala. Program penanaman padi yang dijalankan tidak hanya bertujuan mencukupi konsumsi harian warga, tetapi juga sebagai fondasi ekonomi desa yang lebih tahan guncangan.
Alimuddin menambahkan bahwa pemerintah daerah semestinya memberi perhatian lebih pada desa-desa dengan potensi pertanian besar seperti Kandolo. Tanpa dukungan nyata, potensi pertanian lokal dikhawatirkan akan terus tertidur.
Dengan dukungan kebijakan yang lebih fleksibel dan pendampingan teknis, Desa Kandolo berharap bisa memaksimalkan lahan yang selama ini belum tergarap demi kesejahteraan masyarakatnya. (ADV)