AKSELERASI.ID – Selama bertahun-tahun, Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu daerah penting dalam peta energi Indonesia. Batu bara menjadi bagian besar dari aktivitas ekonomi sekaligus menopang posisi daerah sebagai salah satu pemasok energi nasional.
Namun, peta tersebut perlahan mulai berubah. Dalam satu dekade mendatang, Energi Kaltim diproyeksikan tetap memegang peran sebagai lumbung energi, tetapi dengan arah yang semakin beragam. Energi terbarukan, bioenergi, hingga pengembangan ekonomi hijau mulai mendapat ruang lebih besar di tengah perubahan kebutuhan energi dunia.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menegaskan perubahan tersebut tidak berarti Kaltim akan meninggalkan identitasnya sebagai daerah penghasil energi.
“Pertama, Kaltim tetaplah lumbung energi, lumbung energi dan penghasil energi,” kata Bambang.
Yang berubah, kata dia, adalah cara Kaltim mempersiapkan masa depan sektor energinya.
Permintaan Batu Bara Diprediksi Menurun
Salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi sektor energi Kaltim datang dari perubahan permintaan energi dunia.
Komitmen negara-negara terhadap Paris Agreement menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat pergeseran tersebut. Ketika semakin banyak negara mendorong penggunaan energi rendah karbon, kebutuhan terhadap bahan bakar fosil diperkirakan ikut terkoreksi.
Bambang memperkirakan permintaan batu bara dapat mengalami penurunan sekitar 30 persen pada 2030.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi Kaltim. Sebagai daerah yang selama ini memiliki peran besar dalam produksi batu bara, perubahan permintaan global mau tidak mau harus diantisipasi melalui diversifikasi sumber energi.
Produksi Batu Bara Mulai Dikendalikan
Perubahan arah kebijakan juga terlihat dari upaya konservasi deposit batu bara.
Bambang menyebut produksi batu bara sebelumnya berada pada kisaran 795 juta ton. Dari angka tersebut, sekitar 159 juta ton dikurangi sehingga produksi diarahkan berada di kisaran 600 juta ton.
Pengendalian produksi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pemanfaatan energi fosil mulai diarahkan agar lebih terkendali.
Pada saat yang sama, pemerintah mulai melihat sumber energi alternatif sebagai bagian penting dari masa depan daerah.
“Memang sekarang sudah saatnya beralih kepada energi terbarukan,” ujarnya.
Bagi Kaltim, langkah ini bukan hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan. Fluktuasi harga komoditas energi, kebijakan biodiesel, hingga konflik geopolitik yang memengaruhi pasar global turut memperlihatkan bahwa ketergantungan pada satu sumber energi memiliki risiko ekonomi.
“Dua peristiwa ini kemudian memberikan penjelasan kepada kita bahwa memang energi terbarukan ini merupakan peluang sebenarnya untuk meningkatkan,” katanya.
Surya dan Hidro Mulai Dilirik
Di tengah perubahan tersebut, Kaltim sebenarnya memiliki modal alam yang cukup besar untuk mengembangkan energi terbarukan.
Energi matahari dan tenaga air menjadi dua sumber yang dinilai memiliki prospek kuat. Potensi tenaga air dapat dimanfaatkan melalui pembangkit listrik tenaga air atau hydropower, baik dengan memanfaatkan aliran sungai maupun infrastruktur bendungan.
Sejumlah wilayah Kaltim memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber listrik berbasis hidro. Jika dimanfaatkan secara optimal, energi tersebut dapat memperkuat bauran energi daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Tak berhenti di sana, sektor perkebunan juga membuka peluang lain melalui pemanfaatan biomassa.
Kalimantan Timur memiliki industri kelapa sawit yang dapat menjadi sumber bahan baku bioenergi. Potensi tersebut dinilai menjadi salah satu keunggulan Kaltim dalam membangun ekosistem energi baru.
“Energi-energi seperti energi terbarukan dari sawit, biomassa itu juga cukup besar di kita,” jelas Bambang.
B50 Bisa Memperkuat Ekosistem Bioenergi
Transformasi energi Kaltim juga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan B50.
Program biodiesel tersebut membuka ruang pemanfaatan produk berbasis sawit sebagai bahan bakar nabati. Bagi Kaltim, peluangnya semakin besar karena rantai pasok industri sawit telah berkembang di wilayah ini.
Mulai dari perkebunan sebagai sumber bahan baku hingga fasilitas refinery, sejumlah komponen penting industri tersebut berada di Kaltim.
“Sawit itu di sini, kemudian refinery-nya juga semua di sini. Bahkan semua bahan bakunya semua sudah di sini,” ujarnya.
Kondisi itu memberikan keuntungan tersendiri. Ketika kebijakan biofuel semakin berkembang, Kaltim tidak hanya berpotensi menjadi daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga memiliki peluang membangun nilai tambah melalui industri pengolahan.
Artinya, transisi energi tidak harus dimaknai sebagai perpindahan dari batu bara menuju pembangkit listrik tenaga surya atau air semata. Bioenergi berbasis sawit juga dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Energi Hijau Jadi Jalan Menuju Ekonomi Baru
Pada akhirnya, perubahan sektor energi memiliki kaitan erat dengan masa depan ekonomi Kaltim.
Daerah ini tidak bisa selamanya mengandalkan sumber daya fosil sebagai motor utama pertumbuhan. Ketika permintaan energi dunia berubah, struktur ekonomi pun harus ikut beradaptasi.
Pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah sektor prioritas untuk mendorong perubahan tersebut. Bambang menyebut terdapat sekitar 15 sektor ekonomi prioritas yang diarahkan mengalami transformasi.
Arah besarnya adalah membangun struktur ekonomi yang tidak lagi terlalu bergantung pada energi fosil, sekaligus membuka ruang bagi sektor-sektor baru yang lebih berkelanjutan.
“Bagaimana kegiatan ekonomi prioritas, sektor prioritas ekonominya, dari energi fosil menuju ekonomi hijau,” tandasnya.
