
AKSELERASI.ID, Banjarbaru – Saban kali 5 Rajab tiba, kawasan Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan, selalu menjelma menjadi ruang spiritual sekaligus ruang kemanusiaan. Haul Guru Sekumpul bukan sekadar peringatan wafatnya ulama kharismatik KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, tetapi juga momentum lahirnya solidaritas tanpa pamrih dari masyarakat.
Tahun ini, semangat itu kembali terasa kuat. Di sepanjang jalur kedatangan jamaah, masyarakat membuka posko dan rest area secara swadaya. Salah satunya adalah Posko A. Yani Jembatan Kembar Banjarbaru, yang berlokasi di RT 04 Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru.
Gotong Royong Tanpa Kotak Sumbangan
Berbeda dari banyak kegiatan sosial lainnya, posko ini berdiri tanpa mengedarkan kotak sumbangan. Semua berjalan atas dasar kerelaan warga.
Ketua RT 04, Madi, menegaskan bahwa seluruh aktivitas posko dilakukan murni secara sukarela.
“Kami tidak ada menyuruh, semuanya dilakukan secara sukarela. Kami tidak mengumpulkan sumbangan, tetapi jika ada yang ingin memberi atau membantu tenaga, silakan. Yang penting tidak ada yang meminta-minta,” ujar Madi.
Kesadaran kolektif itulah yang menjadi fondasi utama posko. Warga setempat bahu-membahu menyiapkan konsumsi, tempat istirahat, hingga mengatur alur pelayanan agar tetap tertib dan manusiawi.
Untuk menjaga kelancaran arus jamaah, BPK Batra (Barisan Pemadam Kebakaran) turut dilibatkan dalam pengaturan lalu lintas, sehingga aktivitas posko tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Makan Sepuasnya, Berkah Tanpa Hitungan
Koordinator Posko A. Yani Jembatan Kembar Banjarbaru, Haji Hairul, menyebut seluruh makanan dan minuman berasal dari swadaya masyarakat, tanpa target dan tanpa batasan.
“Kami tidak menetapkan batasan jumlah, kami persilakan jamaah untuk makan sepuasnya. Bahkan saat puncak acara, kami juga memberikan izin untuk membawa makanan ke tempat penginapan,” ungkapnya.
Haji Hairul sendiri turut terlibat langsung. Ia menyiapkan sekitar 1,5 blek atau 30 liter nasi goreng, sementara warga lainnya menyumbang menu beragam seperti ayam, ikan asin telang, camilan, roti, dan gorengan.
“Ibu-ibu juga berpartisipasi, seperti membuat minuman es, kopi, teh, dan lain-lain,” tambahnya.
Tak ada pencatatan jumlah porsi, tak ada pembatasan. Semua mengalir dengan satu prinsip: melayani jamaah sebaik mungkin.
Tempat Singgah, Tempat Pulih, dan Tempat Berteduh
Posko ini tidak hanya menyediakan makanan. Bagi jamaah yang kelelahan atau kesulitan mencari penginapan, posko difungsikan sebagai tempat istirahat darurat.
“Kami sering menampung jamaah dari luar daerah yang kesulitan mencari penginapan. Ada yang datang dari Tangerang, Bandung, hingga Madura,” kata Haji Hairul.
Lebih dari itu, posko juga dilengkapi layanan kesehatan, lengkap dengan tim medis dan mobil ambulans yang siaga mengantar jamaah ke fasilitas kesehatan jika dibutuhkan.
Kolaborasi antara warga, relawan, BPK, dan aparat kepolisian membuat posko berjalan tertib dan aman hingga puncak haul berakhir.
“Alhamdulillah, tahun ini acara berjalan dengan baik dan lancar. Kami berharap setiap tahun kegiatan ini bisa terus dilaksanakan untuk membantu jamaah yang datang,” tutup Haji Hairul.
Haul Guru Sekumpul, Ibadah dan Kemanusiaan
Di Posko A. Yani Jembatan Kembar Banjarbaru, Haul Guru Sekumpul menemukan makna yang lebih luas. Ia hadir bukan hanya dalam lantunan zikir dan doa, tetapi juga dalam wujud nasi hangat, segelas teh, tempat beristirahat, dan senyum keikhlasan.
Di sinilah nilai ajaran Guru Sekumpul hidup dan dirasakan: berbagi, mengabdi, dan memuliakan sesama tanpa berharap balasan. (red)