
AKSELERASI, KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Perkebunan (Disbun) mulai mengarahkan para petani kakao untuk tidak hanya menjual biji kering (bean), tetapi juga mengolahnya menjadi produk cokelat jadi. Strategi ini diambil untuk mendongkrak keuntungan petani secara signifikan, di mana margin keuntungan olahan cokelat dapat mencapai ratusan persen.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Kutim, Ii Sumirat, menegaskan bahwa sudah saatnya produk kakao Kutim keluar dan dipasarkan dengan branding sendiri.
Ii Sumirat mengungkapkan, ketertarikan pasar luar, termasuk pabrik cokelat di Bandung, menjadi momentum bagi Kutim untuk maju. Ia berencana menjalin kerja sama langsung dengan pabrik tersebut, namun Disbun mendorong petani untuk mengolah sebagian hasilnya.
“Kalau kita olah sendiri itu kan untungnya bisa 300 sampai 400 persen. Keuntungan yang kita dapat,” ungkap Ii Sumirat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Disbun Kutim Bukit Pelangi, belum lama ini, mengutip informasi dari pihak perusahaan di Bandung.
Saat ini, biji kakao kering kualitas A hanya dihargai di kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram. Sementara itu, biji yang diolah menjadi cokelat bisa menghasilkan keuntungan hingga jutaan rupiah per kilogram.
Menyadari potensi besar ini, Ii Sumirat akan memprioritaskan peningkatan kualitas biji kakao (bean) melalui pelatihan yang lebih intensif di tahun depan. Respons positif dari pasar telah memicu semangat Disbun untuk segera membenahi kualitas.
“Sekarang sudah saatnya Kutim itu keluar sendiri. Barangnya, produknya keluar sendiri,” tegasnya.
Disbun Kutim kini tengah mengkaji komposisi ideal antara biji kakao yang harus dijual dalam bentuk bean dan yang harus diolah sendiri. Tujuannya adalah memastikan percepatan perputaran ekonomi yang optimal bagi kelompok petani.
“Misalnya kita tetapkan 20 persen untuk kita bikin sendiri (diolah), 80 persen yang kita jual bentuk bean,” jelasnya.
Penentuan persentase ini akan melalui kajian mendalam, mempertimbangkan target pasar yang ingin dicapai Kutim. Program ini didukung dengan kunjungan Bupati Kutim ke rumah produksi cokelat di Karangan, menunjukkan komitmen Pemkab terhadap industrialisasi komoditas kakao lokal.
Sinergi antara pengolahan mandiri dengan kerja sama pihak luar yang mengolah cokelat, diharapkan dapat memberikan hasil luar biasa dan meningkatkan kesejahteraan petani Kutim.(Adv)