Home BERITA KALTIM Padliyansyah Dorong Tarsul Jadi Warisan Hidup di Tangan Muda

Padliyansyah Dorong Tarsul Jadi Warisan Hidup di Tangan Muda

0

Banner Pemerintah Kabupaten Kutai Timurr

AKSELERASI, KUTIM – Bagi Padliyansyah, melestarikan Tarsul bukan hanya soal menampilkan warisan leluhur, tapi memastikan bahwa ia hidup dan tumbuh di tangan generasi baru. Itulah pesan kuat yang ia sampaikan saat penutupan Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025, Ahad (23/11/2025), menyaksikan langsung penampilan penuh penghayatan dari dua penarsul muda: Zuhud Fauzi Abror dan Nur Riska Hidayatsah Aulia.
Mereka membawakan Tarsul—seni bertutur khas Kutai—dengan lirik penuh makna dan nada yang menyentuh. Bukan sekadar syair, Tarsul memuat pesan moral, spiritual, dan sosial yang diwariskan turun-temurun dari zaman kesultanan.
“Tarsul harus jadi warisan hidup, bukan hanya tontonan sesekali. Generasi muda harus diberi ruang dan pembinaan agar bisa menjadi pewaris sejati budaya ini,” ujar Padliyansyah, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim.
Ia menjelaskan bahwa Disdikbud Kutim saat ini tengah menggagas integrasi Tarsul ke dalam program pendidikan dan kegiatan seni di sekolah, termasuk dalam bentuk ekstrakurikuler dan festival pelajar.
“Kalau tidak kita tanamkan sekarang, nanti mereka hanya tahu Tarsul dari video atau museum. Kita ingin mereka jadi pelaku, bukan sekadar penonton,” tegasnya.
Tarsul, yang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2022, dulunya hanya dinyanyikan kalangan bangsawan, kini menjadi milik masyarakat luas. Syairnya yang khas dan berbalasan menjadi media komunikasi sosial, ekspresi seni, hingga penyebaran ajaran agama Islam.
Penampilan Zuhud dan Riska malam itu membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, generasi muda bisa menjadi pelestari budaya yang tulus dan kreatif. Apresiasi tinggi dari penonton menunjukkan bahwa tradisi seperti Tarsul masih punya tempat di hati masyarakat, asal terus dihidupkan dengan pendekatan kekinian.
Festival Budaya Kutai Timur 2025 pun meninggalkan kesan kuat: bahwa pelestarian bukan berarti mengawetkan budaya, tapi menghidupkannya kembali di tangan generasi baru yang mencintainya dengan cara mereka sendiri. (ADV)

Exit mobile version