AKSELERASI – Ada tiga sekolah di Benua Etam yang tercatat sebagai yang pertama menerapkan kurikulum Merdeka. Diantaranya SMA Negeri 8 Samarinda, SMA Negeri 11 Samarinda, serta SMA Kristen Sunodia Samarinda.
“Hanya ada 3 angkatan pertama di Kaltim, jadi kamilah yang menjadi pionir implementasi kurikulum Merdeka,” kata Nurhayati, Kepala SMA Negeri 8 Samarinda.
Berangkat dari hal tersebut menyebabkan pada tahun 2021 hanya tigas sekolah itu yang menerapkan Kurikulum merdeka, baru kemudian di 2022 diambil kesepakatan saat rakor kepala sekolah Se-Kaltim untuk melaksanakan kurikulum merdeka secara menyeluruh di sekolah yang ada.
Pertimbangan kurikulum nasional yang akan diterapkan di 2024 sebagai dasar diambilnya kesepakatan tersebut, sehingga di tahun ajaran 2022-2023, 90 persen sekolah telah menerapkan kurikulum merdeka.
“Artinya kenapa harus memulai nanti sedangkan kita bisa lebih awal,” sambung Nurhayati.
Lebih lanjut, Nurhayati memaparkan, karena SMAN 8 Samarinda beserta dua sekolah lainnya lebih dulu menerapkan kurikulum merdeka, makanya saat ini kurikulum Merdeka mereka telah utuh hingga ke kelas 12, berbeda dengan sekolah lain yang kurikulum merdekanya masih sampai di kelas 11.
Karena statusnya sebagai pionir, menyebabkan banyak sekolah lain yang datang berkunjung untuk sharing perihal kurikulum merdeka. “Baik terkait masalah dan bagaimana menjalani kurikulum merdeka,” jelasnya.
Nurhayati juga menyampaikan jika sekolah penggerak dibimbing langsung dari Dinas Pendidikan pusat baik berupa pendanaan maupun pendampingan seputar Kurikulum merdeka.
Wujud pendampingannya sendiri berupa coaching online dan offline, juga loka karya, dan bimbingan itu dilaksanakan selama 3 tahun, sejak 2021 hingga 2023, setelah itu nanti sekolah akan kembali dilepas dan dikembalikan kepada daerah.
“Jadi kami 3 sekolah tadi sudah full kurikulum merdekanya nda ada K13 lagi,” tutupnya. (fai/adv)
