Disdikbud Kaltim punya strategi khusus menangani siswa SLB yang lulus. Sejumlah instansi berlabel negeri dan swasta diajak bekerjasama.
NYARIS saban tahun, Disdikbud Kaltim menggelar rakor yang lebibatkan berbagai unsur. “Hal ini sudah kami sosialisasikan terkait masa depan siswa disabilitas pasca lulus,” kata Muhammad Syafi’i, Pengawas Pendidikan Khusus Disdikbud Kaltim.
Lewat strategi ini, lapangan kerja di ranah publik telah disediakan bagi siswa disabilitas, termasuk di lingkungan SLB sendiri. “Mereka bisa mendaftarkan diri untuk bekerja di sana,” ujarnya. “Banyak anak berkebutuhan khusus yang kerja di SLB, dihonor oleh provinsi, baik itu jadi cleaning service, jadi pegawai perpustakaan dan sebagainya,” sambung Muhammad Syafi’i.
Ruang bagi siswa disabilitas juga diberikan Disdikbud Kaltim di dunia swasta. “Misalkan di SLB Samarinda, mereka sudah bekerja sama dengan United Tractors untuk melatih, walaupun melatihnya hanya membersihkan AC, itu pernah,” terangnya.
Bukan tanpa dasar, langkah tersebut didasarkan pada peraturan tenaga kerja tentang wajibnya pemberian peluang bekerja bagi penyandang disabilitas, yang dirincikan untuk lembaga pemerintah 2 persen dan lembaga swasta 1 persen.
“Berarti kalau punya 100 orang tenaga kerja, idealnya untuk BUMN atau BUMD, minimal 2 anak berkebutuhan khusus bisa diterima bekerja di sana. Kalau untuk swasta dari 100 tenaga kerja berarti wajib 1 orang anak berkebutuhan khusus diberi ruang,” jelasnya.
Muhammad Syafi’i menyatakan, Disdikbud Kaltim memang sudah mempersiapkan dengan matang terkait ini,. Bahkan dari ranah SLB itu sendiri. Jika memasuki jenjang SMA LB arah pendidikannya akan di design layaknya SMK, sehingga 60 persen kurikulumnya akan diisi pendidikan keterampilan atau pendidikan vokasi.
“Artinya kami sudah kerjasama antar sekolah dengan instansi negeri maupun swasta perihal anak disablitas ini, dan sampai sekarang sudah berjalan, bahkan sudah ada yang kerja di supermarket dan segala macam,” paparnya. (fai/adv)
