
AKSELERASI, KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menegaskan komitmennya untuk menjamin hak pendidikan setiap anak. Pada Jumat (21/11/2025), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) resmi meluncurkan Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) di Café Maloy, Hotel Royal Victoria, Sangatta Utara.
Langkah ini menjadi respon konkret terhadap tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kutim, yang berdasarkan data Maret 2025 tercatat sebagai yang tertinggi di Kalimantan Timur.
Dalam sambutannya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan pentingnya integrasi program SITISEK dalam kebijakan pendidikan daerah. Ia menggarisbawahi bahwa Kutim telah menerapkan kebijakan wajib belajar 13 tahun, dengan layanan pendidikan gratis dari PAUD hingga SMA.
“Tidak ada alasan anak-anak di Kutai Timur tidak sekolah. Kami sudah sediakan semua fasilitas, dan sekarang saatnya kita kawal pelaksanaannya sampai tuntas,” ujar Bupati Ardiansyah.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa program SITISEK kini difokuskan untuk menurunkan ATS minimal 50 persen dalam tiga tahun, dan selanjutnya direplikasi ke seluruh kecamatan sebagai model program pendidikan inklusif berbasis daerah.
SITISEK disusun dalam tiga tahapan strategi: Jangka pendek: verifikasi data ATS berbasis by name by address, pembentukan forum lintas sektor, dan deklarasi bersama stakeholder. Jangka menengah: kerja sama CSR perusahaan, distribusi beasiswa dan seragam, serta pendirian kelas jauh dan PKBM.
“Untuk jangka panjang: penurunan ATS hingga 50 persen, replikasi ke semua kecamatan, dan pengusulan sebagai program strategis nasional,” tuturnya.
Mulyono menjelaskan manfaat SITISEK, secara internal: peningkatan IPM, data pendidikan yang valid, dan peningkatan APK dan APM. Selanjutnya, untuk eksternal memudahkan akses pendidikan, bantuan ekonomi, dan peningkatan kesadaran orang tua.
“Kami ingin swasta dalam hal ini penyaluran CSR lebih terarah dan berdampak langsung ke masyarakat sekitar. Dengan roadmap yang jelas dan dukungan lintas sektor, kami optimis SITISEK dapat menjadi lompatan besar dalam menciptakan pendidikan yang merata dan berkeadilan di Kutai Timur,” tutup Mulyono. (ADV)




