spot_img

Banjir Menggenang, Paman Birin Dikenang

Oleh: Abe – Wartawan

“Banyu lalu haja” (airnya lewat aja) kalimat itu pernah populer ketika Sahbirin Noor atau akrab dikenal Paman Birin pasca dirinya mengikuti debat Calon Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) saat Pemilihan Gubernur tahun 2020 silam. Ungkapan berbahasa Banjar itu begitu sederhana namun seolah-olah menjadi simbol tatkala musibah banjir melanda daerah di Bumi Lambung Mangkurat kisaran tahun 2021.

Namun seiring perjalanan waktu ungkapan itu pun berlahan sunyi ketika sang Paman memilih mundur dari kursi kuasa Pemerintah Provinsi Kalsel pada 13 November 2024 lalu setelah dirinya berhasil melepaskan status tersangka melalui praperadilan.

Kini 5 tahun telah berlalu, awal tahun ini banjir itu kembali menyapa beberapa daerah di Kalsel. Curah hujan tinggi, air naik, rumah terendam bahkan melumpuhkan aktivitas warga. Ditengah genangan itu, nama Paman Birin kembali menggema, bukan karena kontroversi, bukan pula karena jabatannya melainkan kerinduan terhadap sosoknya ketika bencana terjadi, dirinya begitu gercep turun langsung membantu warga.

Media sosial terutama tiktok seolah menjadi etalase pernyataan rindu itu. Wajah yang sama, gaya yang sama, dan—menurut warganet—kepedulian yang juga sama.

Akun @habarbjm (Habar Banjarmasin) menuliskan, “Gubernur Kalsel dua periode 2016-2024, Sahbirin Noor terus menebar bantuan bencana banjir di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Tak hanya di Bincau Muara, Paman Birin juga membagikan bantuan ke desa-desa lain yang juga terdampak, Minggu (4/1/2026). Paman Birin juga memborong dagangan warga berupa pundut nasi dan kembali dibagikan kepada korban banjir,” dikutip dari akun TikTok @habarbjm.

Caption itu bukan sekedar narasi, bukan pula sekedar laporan kegiatan. Ini semacam dejavu, mengais ingatan warga tentang eorang pemimpin yang tak menunggu seremoni, tak sibuk konferensi pers, tapi memilih hadir langsung—basah, berlumpur, dan menyapa.

Kemudian ada akun tiktok @aluh.idut menulis, “Nah kaingatan ulun wan pian nah paman ae. Mudahan pian selalu diberikan kesehatan paman. Rekam jejak digital Paman, sewaktu warga banua terkena dampak banjir,” dikutip dari akun TikTok @aluh.idut.

Narasi itu begitu personal, merindukan sosok Paman Birin.

Sementara akun @pemburubalu (Borneo Info News) menulis refleksi yang lebih panjang, “Masyarakat Banua tak pernah lupa. Meski banjirnya lalu haja, kepedulian itu tetap terasa. Beliau masih seperti yang dulu, selalu berada di barisan terdepan, selalu bersama masyarakat kecil dan pinggiran. Terima kasih, Paman,” dikutip dari akun TikTok @pemburubalu.

Tak ketinggalan, akun @haji.pulus.binuang menuliskan, “tanpa mahkota pian tetap dihati masarakat Kalsel. yg selalu membantu rakyat disaat kesushan sehat panjang umur paman birin,” dikutip dari akun TikTok @haji.pulus.binuang.

Dan satu kalimat penutup yang terasa jujur datang dari akun @bahdi333bahdi (Amang Bahdi), “Beliau bukan cari sensasi, tp jiwa sosial sidin yg tinggi,” dikutip dari akun TikTok @bahdi333bahdi.

Fenomena ini menarik. Di saat kepercayaan warga terhadap elite politiknya naik-turun, ingatan mereka justru melekat pada aksi, bukan jabatan. Pada kehadiran, bukan baliho. Pada kepedulian, bukan pidato.

Paman Birin hari ini mungkin tak lagi memiliki “mahkota” kekuasaan. Tapi dari banjir ke banjir, dari kampung ke kampung, terlihat satu hal yang sulit dibantah bahwa dalam memori warga Banua, kepemimpinan tak selalu diukur dari kursi, melainkan dari siapa yang datang ketika air naik dan harapan mulai tenggelam.

  Yuk Gabung ke Channel WhatsApp Akselerasi.id!

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait