spot_img

Martin Tegaskan Hilirisasi Tambak Sangkulirang Perlu Dukungan Maksimal

Banner Pemerintah Kabupaten Kutai Timurr

AKSELERASI, KUTIM – Kepala Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun Laurentius Martin kembali menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai penggerak ekonomi desa di Kutai Timur. Ia mengungkap bahwa selain potensi pertanian dan perkebunan, kawasan pesisir Teluk Sangkulirang memiliki peluang besar untuk pengembangan tambak udang dan ikan air payau. Namun, kurangnya dukungan pasca panen membuat potensi tersebut belum mampu dioptimalkan masyarakat.

Martin memaparkan bahwa berdasarkan kajian masyarakat, terdapat sekitar 150 hingga 200 hektare lahan yang sangat potensial untuk dijadikan area tambak. Karakter air payau di kawasan pesisir diyakini sangat cocok bagi budidaya udang dan ikan bernilai ekonomi tinggi, sehingga peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sebenarnya terbuka lebar.

“Tambak udang banyak karena air payau di situ. Potensi ikan air payau juga sangat besar,” jelasnya saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, belum lama inii.

Kendati begitu, ia menegaskan bahwa permasalahan utama tidak berada pada kemampuan produksi atau ketersediaan lahan. Tantangan paling krusial justru muncul setelah panen dilakukan. Jika hasil tangkapan tidak segera dibeli, petani tambak harus menanggung lonjakan biaya operasional, mulai dari tambahan pakan hingga kebutuhan tenaga dan fasilitas penyimpanan.

“Pasca panennya harus ada kepastian. Jangan sampai masyarakat sudah keluarkan biaya besar, tapi hasilnya tidak terserap,” tegasnya.

Martin juga menyarankan agar pemerintah kabupaten menyiapkan pola pemasaran yang lebih terpadu, termasuk membuka pintu kemitraan dengan perusahaan pembeli besar. Menurutnya, tanpa pasar yang jelas, masyarakat pesisir akan kesulitan memulai ataupun memperluas budidaya tambak, meski potensi alam sangat mendukung.

Selain itu, Martin menyoroti pola pendampingan dinas terkait yang selama ini diberikan kepada masyarakat. Ia mengakui bahwa pemerintah cukup aktif memberikan bibit, pelatihan, hingga pembinaan kelompok usaha. Namun, program tersebut masih terfokus pada bagian hulu dan belum menyentuh kebutuhan hilir yang menentukan keberlanjutan produksi.

“Dinas menyediakan bibit, menyediakan pelatihan, banyak sekali. Tapi pasca produksinya ke mana? Tidak ada roadmap yang jelas,” katanya.

Ketiadaan pasar yang pasti membuat banyak kelompok usaha desa ragu untuk meningkatkan volume budidaya. Bibit tersedia, pelatihan diberikan, tetapi risiko kerugian dianggap terlalu besar ketika pasca panen tak memiliki tujuan yang jelas. Karena itu, Martin berharap dinas maupun perusahaan yang beroperasi di wilayah pesisir dapat berperan aktif membuka akses pemasaran atau bahkan menjadi pembeli tetap bagi warga.

Dengan potensi tambak yang luas dan antusiasme masyarakat pesisir Teluk Sangkulirang, Martin menegaskan bahwa hilirisasi harus menjadi prioritas agar kekayaan alam tersebut dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa secara berkelanjutan. Tanpa dukungan pasca panen, desa hanya akan terus berputar pada produksi tanpa menghasilkan nilai tambah. (ADV)

  Yuk Gabung ke Channel WhatsApp Akselerasi.id!

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait