Oleh:
Abe – Jurnalis
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi STIAMI Jakarta
Penonaktifan seorang Sayed Jafar Alaydrus (SJA) sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kotabaru, Kalimantan Selatan pada 2024 lalu menandai peta politik baru bagi mantan Bupati Kotabaru dua periode tersebut.
Setelah partai berlambang pohon beringin mengambil sikap tegasnya atas pencalonan Fatma Idiana, tak lain adalah istri SJA maju sebagai Calon Bupati Kotabaru pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun lalu melalui jalur independen, padahal partai di Ketuai Bahlil Lahadalia ini ikut mengusung pasangan Muhammad Rusli-Syairi Mukhlis.
SJA menentang keputusan partai? mungkin iya. Namun seperti istilah biasanya, “setiap kejadian pasti ada hikmahnya”. Bagi pria kelahiran Kotabaru 63 tahun silam, momen tersebut justru memberinya kesempatan untuk membangun poros baru peta perpolitikan di Bumi Antasari.
Aksi krusial dilakukan SJA ketika berani menerima estafet kepemimpinan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalsel, pada 15 Oktober 2025 lalu disepakati bahwa warga Jalan Hasanuddin Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru ini memimpin partai dengan ciri khas berwarna jingga.
Menjadi orang nomor satu di Partai Hanura Kalsel jelaslah menjadikannya tak hanya sekadar kader biasa namun sebagai pengendali organisasi.
“Hanura tentu akan saya perbaiki semua mulai dari pengurus DPD, DPC hingga PAC. Kami akan perkuat struktur agar bisa berkiprah dan sejajar dengan partai besar di Kalimantan Selatan,” janji SJA pasca acara pelantikan, Senin malam (3/11).
Dengan menguasai struktur partai dari provinsi hingga akar rumput, SJA kini punya modal untuk lebih leluasa bermanuver dengan partai bernomor urut 10 pada pemilu lalu. Hanura bisa dijadikan kendaraan politik alternatif untuk dirinya, keluarga, maupun kader yang sedang ia siapkan untuk menghadapi kontestasi pemilu yang akan datang.
Namun untuk membuat Partai Hanura Kalsel sejajar dengan partai besar lainnya macam Golkar, Gerindra, ataupun PDI Perjuangan bukanlah perkara gampang meski modalnya cuan dan figur. Inilah pekerjaan rumah yang musti diselesaikan partai yang cuma masuk tiga besar paling bawah pada Pemilihan Legislatif Kalsel lalu dengan mengantongi 7.577 suara saja, bahkan kalau dibanding dengan perolehan suara pasangan Fatma Idiana–Said Akhmad pada saat Pilkada Kotabaru 2024 lalu berhasil meraup 61.649 suara. Aiss jauh banar (betul) selisihnya. Apalagi dibandingkan dengan perolehan suara partai besar yang ada di Kalsel.
Jiakalau SJA ingin menjadikan Hanura Kalsel sebagai kendaraan konsolidasinya untuk tahun 2029, mungkin ada pola yang musti dirubah partai ini, diantaranya penyakit partai kecil pada umumnya. Yang mana partai kecil hanya hidup ketika saat akan menghadapi pemilu. Ini yang tidak boleh diulang Hanura Kalsel, artinya status partai “eksklusif” harus dirubah menjadi partai kerja, kerja, dan kerja, yang kehadirannya bisa dirasakan saban hari bukan saban lima tahun. Mengutip pernyataan SJA yakni memperbaiki pengurus serta memperkuat struktur partai, artinya mulai DPC dan PAC harus difungsikan sebagai simpul pelayanan sosial seperti pendampingan UMKM, advokasi warga, bantuan hukum maupun respon cepat terhadap isu-isu sosial sekitar.
Selanjutnya kaderisasi, jangan terlalu mengandalkan politisi karbitan. Muncul di kampung pas mau pemilu saja, apalagi cuma modal senyum saja. Pas jadi calon baru ramah dengan masyarakat. “Jangan yaa Kaka,” sambil senyum nyengir. Uang memang bisa membuat baliho besar-besar namun tidak bisa membeli loyalitas jangka panjang. Dengan keunggulan pengalaman SJA sebagai birokrat dan eksekutif selama 10 tahun serta politisi Golkar, transfer pengalaman bisa menjadi pembeda Hanura Kalsel dibanding partai lain yang mengandalkan figur dadakan.




