spot_img

Mangrove Bumi Etam Siap Jadi Destinasi Baru, Perlu Konsep Atraktif dan Dukungan Bersama

Banner Pemerintah Kabupaten Kutai Timurr

AKSELERASI, KUTIM – Wisata mangrove di Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun, Kutai Timur, berpeluang besar menjadi destinasi unggulan daerah jika dikelola dengan konsep yang lebih atraktif. Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Bumi Etam, Laurentius Martin, saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, belum lama ini. Ia menilai bahwa keindahan alami mangrove hanyalah fondasi awal, sementara daya tarik wisata tercipta dari perencanaan kreatif dan fasilitas yang mendukung pengalaman pengunjung.

Martin menyebut bahwa kawasan mangrove di desanya memiliki kekuatan alam yang khas: hamparan akar bakau yang rapat, jalur air tenang yang cocok untuk susur sungai, serta ekosistem pesisir yang kaya akan flora dan fauna. Namun, tanpa sentuhan konsep wisata yang menarik, potensi tersebut tidak dapat berkembang menjadi sektor ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Wisata itu paling tidak harus memiliki unsur atraktif. Ada beberapa mangrove di sini, tapi siapa yang mampu merencanakan agar mangrove ini punya daya tarik luar biasa yang bisa menyedot wisatawan?” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan wisata mangrove membutuhkan serangkaian elemen pendukung, seperti jalur edukasi untuk mengenalkan ekosistem bakau, titik foto yang estetis, transportasi air yang aman, hingga paket wisata budaya dan kuliner lokal. Unsur-unsur tersebut diyakini mampu menciptakan pengalaman menyeluruh bagi wisatawan, sehingga kunjungan tidak sebatas rekreasi singkat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan ekowisata yang bernilai.

Martin juga menyoroti lemahnya sinkronisasi antara perencanaan desa dan kebijakan kabupaten. Desa, ujarnya, merupakan pelaksana langsung dari visi dan misi pemerintah daerah, sehingga arah pembangunan harus selaras dan saling mendukung. Namun dalam praktiknya, desa kerap berjalan tanpa arahan hilirisasi dari tingkat kabupaten.

“Desa ini kan perpanjangan tangan dari visi misi Kabupaten. Harus sinkron dan harmonis,” katanya.

Ia menilai bahwa dinas teknis memang memberikan pelatihan dan pembinaan, tetapi tidak diikuti dengan pembukaan pasar atau kemitraan berkelanjutan. Sementara itu, perusahaan yang beroperasi di sekitar desa belum sepenuhnya terlibat dalam membantu akses promosi atau pengembangan sarana wisata.

Martin menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan pembangunan wisata mangrove Bumi Etam. Pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dinas pariwisata, pelaku usaha, hingga kelompok masyarakat perlu bekerja bersama membangun fasilitas dan jaringan promosi agar mangrove memiliki daya saing sebagai destinasi wisata.

“Tidak hanya pemerintah yang harus sustain. Sektor swasta juga harus ikut menggali potensi desa,” tuturnya.

Dengan dukungan perencanaan yang matang dan kolaborasi lintas sektor, Martin optimistis wisata mangrove Bumi Etam dapat tumbuh menjadi magnet baru bagi wisatawan. Selain memperkuat identitas desa, pengembangan mangrove juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat melalui ekowisata dan usaha turunan lainnya. (ADV)

  Yuk Gabung ke Channel WhatsApp Akselerasi.id!

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait