spot_img

Refleksi 60 Tahun Kabupaten Tanah Laut: Kota yang Mengingat Pejuangnya, Sedang Memuliakan Dirinya Sendiri

AKSELERASI.ID, Tanah Laut – Seorang warga yang dikenal dengan nama Eka Prasetya Aneba atau akrab disapa Yamadipati merefleksikan 60 tahun Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ia menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menata kota sekaligus menata ingatan kolektif masyarakat.

Menurutnya, banyak kota tumbuh tanpa rekam jejak masa lalu, sementara sebagian lainnya meneguhkan identitasnya melalui nama-nama tokoh yang pernah menjaga sejarah daerah. Lebih jauh ia menjelaskan, Tanah Laut, yang kini menginjak usia enam dekade, disebutnya berada pada titik penting untuk menentukan arah identitasnya. Apakah menjadi ruang yang hampa narasi, atau menjadi kota yang memelihara jejak pendirinya.

“Ada kota yang tumbuh tanpa ingatan, dan ada kota yang menulis dirinya lewat nama-nama yang pernah menjaga masa lalu. Tanah Laut, di usia enam puluh tahunnya, berdiri di ambang pilihan, menjadi halaman kosong, atau menjadi peta yang memelihara jejak para pendahulu,” ungkapnya saat dihubungi, Jumat, (12/12).

Menghidupkan Kembali Jejak Pejuang Lokal

Gagasan untuk menghadirkan nama pejuang lokal di ruang publik kembali mengemuka. Walau menurut Head Project Operation Nayaka Foundation ini terbilang terlambat, namun gagasan tersebut layak wujudkan.

Ia menilai, sejarah lokal terlalu lama dibiarkan menjadi lembaran kusam yang jarang disentuh. Padahal nama adalah penanda paling sederhana namun paling kuat untuk memastikan masa lalu tetap hadir di tengah kehidupan masyarakat hari ini.

“Selama ini, banyak jalan hanya diberi angka dan istilah netral. Praktis, ya, tapi kosong. Ia tak merawat ingatan, tak menautkan generasi, tak memberi hormat pada mereka yang memanggul beban tanah ini dengan kesetiaan yang tak pernah menurun,” jelasnya.

Kota Tanpa Ingatan adalah Kota Tanpa Bayangan

Menurut refleksi yang ia sampaikan, kota yang tidak mengabadikan nama para pejuangnya seperti kota tanpa bayangan—tampak hidup, namun kehilangan akarnya. Sebab nama-nama yang lahir dari tanah sendiri membawa kisah tentang kerja keras, keberanian, dan dedikasi yang tidak disimpan dalam tabel administrasi, melainkan dalam perjalanan masyarakat.

Mengabadikan nama pejuang lokal, katanya, bukan hanya tentang menempelkan plakat pada persimpangan jalan, tetapi memberikan penghormatan yang telah lama tertunda.

Karena itu, alangkah elok bila nama-nama itu kembali, nama yang tumbuh dari tanah sendiri, yang lahir dari peluh dan keberanian, bukan dari tabel administrasi. Sebab kota tanpa nama para pejuangnya adalah kota tanpa bayangan, dan apa yang tak punya bayangan jarang benar-benar hidup.

Ruang Publik sebagai Ruang Belajar Bersama

Yamadipati menekankan bahwa penamaan ruang publik perlu melalui dialog. Guru, budayawan, komunitas sejarah, tokoh masyarakat, hingga anak-anak muda harus dilibatkan dalam musyawarah. Ruang publik semestinya bukan hanya dibangun dari beton, tetapi dari cerita dan ingatan yang ingin dijaga.

“Enam puluh tahun adalah usia yang matang untuk berkata lebih tegas, “Inilah penjaga tanah kami. Inilah nama yang tak ingin kami biarkan hilang,” tegasnya.

Kota yang Menghormati Pejuangnya, Sedang Memuliakan Dirinya Sendiri

Pada akhirnya, Yamadipati menyampaikan bahwa peta kota semestinya bukan hanya menunjukkan arah, tetapi menunjukkan asal-usul. Inilah saatnya Tanah Laut kembali memeluk pejuang lokalnya, yang selama ini banyak tertinggal di halaman belakang buku sejarah.

“Biarkan kota ini tumbuh dengan akar yang akhirnya diakui. Sebab kota yang mengingat pejuangnya, sedang memuliakan dirinya sendiri. Dan Tanah Laut layak menerima kehormatan itu,” tandasnya. (red)

  Yuk Gabung ke Channel WhatsApp Akselerasi.id!

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait