
AKSELERASI, KUTIM – Laurentius Martin, Kepala Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun, menegaskan bahwa desanya tidak hanya kaya potensi alam seperti tambak dan pertanian, tetapi juga menyimpan kekuatan budaya yang besar melalui kerajinan tenun ikat. Saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, belum lama ini, ia menyoroti bahwa potensi budaya tersebut dapat menjadi identitas desa sekaligus sumber ekonomi bagi kelompok pengrajin. Namun, seperti sektor lain, hambatan pemasaran masih menjadi batu sandungan terbesar.
Martin menjelaskan bahwa tenun ikat di Bumi Etam dikerjakan oleh komunitas NTT yang telah lama bermukim di wilayah tersebut. Kelompok pengrajin sudah terbentuk, dibina, dan mampu menghasilkan tenun berkualitas tinggi dengan motif autentik. Bahan baku utama bahkan sebagian besar didatangkan langsung dari Nusa Tenggara Timur agar karakter kain tetap terjaga dan bernilai tinggi.
“Materialnya kita bawa dari NTT, kelompok sudah dibentuk, mereka bisa produksi. Tapi setelah itu, pertanyaannya: pemasarannya ke mana?” ujar Martin.
Ia menuturkan bahwa kemampuan produksi para pengrajin sejatinya sudah mumpuni. Mereka mampu menghasilkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat. Tenun ikat tersebut berpotensi menjadi produk unggulan desa karena kualitas warnanya stabil, motifnya khas, dan pengerjaannya dilakukan secara manual dengan teknik tradisional yang jarang ditemui di Kutai Timur.
Selain itu, karya tenun dari Bumi Etam dinilai punya peluang besar menembus pasar regional hingga nasional. Dengan dukungan hilirisasi, produk ini dapat masuk ke galeri UMKM, pusat kerajinan daerah, butik etnik, hingga platform e-commerce. Namun, pemasaran yang masih terbatas di wilayah desa membuat daya beli rendah dan pendapatan pengrajin belum maksimal.
Martin berharap pemerintah kabupaten serta dinas terkait dapat turun tangan membuka saluran pemasaran yang lebih luas—mulai dari penyediaan ruang pamer hingga kemitraan dengan buyer besar. Ia juga mengajak perusahaan yang beroperasi di Kutai Timur untuk ikut mendukung promosi tenun ikat sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan potensi budaya yang begitu kuat, Martin menilai tenun ikat dapat menjadi ikon baru Desa Bumi Etam. Bahkan, jika hilirisasi berjalan baik, kerajinan ini mampu tumbuh menjadi industri kreatif desa yang berkelanjutan. Namun tanpa akses pasar, potensi tersebut dikhawatirkan hanya akan berhenti pada produksi dan tidak menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat. (ADV)




