spot_img

OPINI: Algoritma Sudarno

Oleh:
Faisal Rahman
Wartawan AKSELERASI.ID

KITA mungkin tidak pernah membayangkan. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bisa jadi pesakitan sosial. Itu yang terjadi sebelum gelombang demonstrasi 21 April 2026.

Sebagai pemenang Pilgub Kaltim, kurva sentimen positif Rudy Mas’ud berada di puncak menara gading saat 2024. Ia hidup dalam adoration. Tapi pada 2026, kurva itu terjun bebas. Musababnya? Anda pasti tahu kenapa. Mayoritas sentimen berubah haluan. Citra Rudy Mas’ud berubah. Dari hero menjadi villain.

Bagaimana mungkin reputasi seseorang yang portofolionya terdokumentasi lengkap hingga lembar kertas suara bisa dihancurkan begitu saja? Jawabannya tentu bukan di bilik TPS pasca Pilgub Kaltim. Melainkan di dalam pabrik narasi digital.

Pembalikan citra Rudy Mas’ud tidak lahir secara organik. Ia dirancang menggunakan teori klasik Walter Lippmann (1922) dalam “Public Opinion”: opini publik tidak pernah benar-benar tentang realitas objektif. Tapi tentang gambar yang dibentuk di kepala orang lain.

Selama ini, masyarakat kita membangun citra pemimpin dalam bingkai intangible: anugerah ilahi, bakat alam, titisan malaikat yang nyaris tanpa cela. Tapi titik itulah yang menjadikan Rudy Mas’ud pesakitan sosial. Sentimen negatif yang bisa dibaca lewat algoritma.

Tapi kemudian muncul Sudarno, anggota TAGUPP. Ia membalik algoritma. Menjadi anomaly saat sentimen negatif Rudy Mas’ud menuju typing point.

Tentu ada perbedaan antara keduanya. Persona Sudarno sejak awal adalah tangible. Ia memuat beragam kefanaan. Di medsos, citra itu yang ditangkap publik.

Ini berbeda dengan Rudy Mas’ud. Ia begitu sempurna seperti dewa. Tapi di situlah letak titik rapuhnya: manusia selalu punya cacat. Dan sisi itulah yang diorkestrasi.

Dalam mitologi Nordik, kita mengingat bagaimana kesempurnaan justru menjadi titik kelemahan Balder –Baldr. Kisah Sang Dewa Cahaya menunjukkan bagaimana kesempurnaan dan kekebalan mutlak dapat berubah menjadi celah fatal.

Ada pattern yang tampak dari citra yang terbalik ini. Pertama adalah informasi yang disajikan sepotong. Kebijakan Rudy Mas’ud soal mobil dinas itu –misalnya– seolah berkelindan dengan kursi pijat dan renovasi rumah jabatan. Narasi ini dilempar dan menjadi wacana atau percakapan dari mulut ke mulut.

Kedua, fase percakapan dari mulut itu sampai ke otak. Bahkan hingga hati. Sebab dicampur dengan sentimen emosional. Informasi inilah yang disuntik menjadi bahan bakar emosional tingkat tinggi. Terutama pasca kebijakan itu direalisasikan. Labelisasi lalu disematkan. Digoreng habis dalam satu momen.

Fase terakhir melibatkan AI. Sisa-sisa kewarasan publik disapu bersih oleh gelombang konten provokasi yang di generate oleh kecerdasan buatan. Hanya butuh hitungan detik untuk kemudian kita melihat bagaimana reaksi publik.

Hasilnya? Rudy Mas’ud jungkir balik. Dari Hero menjadi villain di mata publik netral.  Sisi “kesempurnaan” dalam branding lama berbalik. Menghukum Rudy Mas’ud tanpa ampun. Ini sama seperti skandal moral yang menimpa pemuka agama yang hukuman sosialnya selalu berlipat ganda dibanding manusia biasa.

Di sinilah letak perbedaan fundamental antara Rudy Mas’ud dan Sudarno. Sudarno tidak pernah mencoba menjadi hero. Sejak hari pertama video reactnya dirilis, ia merangkul statusnya sebagai manusia biasa dengan segala sisi buruk dan baik.

Sudarno mungkin dengan sengaja memperlakukan cinta dan kebencian publik sebagai bahan bakar –fuel. Ia menari di atas kontroversi. Menjadikan pro dan kontra sebagai fondasi agar namanya abadi di puncak arus percakapan.

Era algoritma hari ini sama sekali tidak peduli apapun. Apakah seseorang dicintai atau dibenci. Algoritma hanya peduli pada seberapa besar atensi yang disedot. Pengguna medsos dengan daya tahan terkuat bukanlah mereka yang sibuk mencari validasi positif. Melainkan mereka yang tahan banting mengelola polarisasi. Dan titik itu, Sudarno adalah pemenangnya.

Kita tahu, kebijakan Rudy Mas’ud membentang di pelbagai ruang digital. Namun, di era perang informasi, fakta objektif bisa dibakar habis oleh narasi yang mbalelo.

Para pendukung setia Rudy Mas’ud mungkin sedang babak belur. Mereka diterpa sentimen negatif. Mungkin saat ini pun masih sibuk menyapu badai itu. Kondisi seperti ini sejatinya tak akan pernah berakhir. Hal yang disadari –dan mungkin pula “dinikmati”– Sudarno dan barisan pendukung Rudy Mas’ud.

Pada akhirnya, memberi validasi diri atas segala sentimen kerap menjadi upaya yang sia-sia. Sudarno mungkin perlu mengingat petuah abadi Khalifah Ali Bin Abi Thalib: ia tidak perlu menjelaskan tentang dirinya kepada siapapun. Karena yang menyukainya tidak butuh itu. Dan yang membencinya tidak akan percaya itu. Sebab satu-satunya yang percaya pada Sudarno adalah algoritma. (*)

  Yuk Gabung ke Channel WhatsApp Akselerasi.id!

spot_img

Yuk Baca Juga

spot_img

Berita Terkait