
AKSELERASI, KUTIM – Kelompok tani Poktan Nyiur Melambai di Desa Kandolo menjadi saksi tumbuhnya harapan baru bagi ekonomi rakyat Kutai Timur. Komoditas lokal, yaitu aren genjah, kini sedang digenjot menjadi sumber energi terbarukan dan produk ekspor unggulan seperti gula semut dan olahan jahe merah.
Plt. Kepala Bidang Usaha Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Kutai Timur, Aminuddin Aziz, menegaskan bahwa aren bukan sekadar pohon tradisional, tapi peluang ekonomi yang sangat menjanjikan.
“Aren kita bukan sembarang pohon. Aren genjah Kutim itu unggul. Usia 5–6 tahun sudah produksi, tiap mayangnya bisa menghasilkan lebih dari 12 liter nira per hari. Ini potensi besar yang harus diolah jadi produk turunan bernilai tinggi,” jelas Aminuddin saat ditemuai di Ruang Kerjanya, Rabu (19/11/2025).
Aren genjah merupakan varietas asli Kutim yang telah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional melalui SK Menteri Pertanian No. 3879/Kpts/SR.120/9/2011. Tanaman ini tersebar luas di Kecamatan Teluk Pandan dan telah dikembangkan di berbagai provinsi seperti Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara.
Ciri khas aren genjah adalah postur yang lebih pendek dan masa produksi yang lebih cepat dibandingkan aren tipe dalam. Setiap pohon induk memiliki potensi produksi benih hingga 4.032 butir, cukup untuk pembibitan lahan seluas 12–13 hektare.
Menurut Aminuddin, Dinas Perkebunan saat ini mendorong pemanfaatan nira aren bukan hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk energi terbarukan seperti bioetanol.
“Kalau serius, aren bisa jadi masa depan energi hijau. Tapi yang paling mendesak sekarang adalah peningkatan nilai tambah. Gula semut, nira jahe merah, bahkan kolang-kaling — semuanya harus kita bantu hilirisasinya agar petani dapat harga lebih baik,” imbuhnya.
Keunggulan lain tanaman ini adalah adaptabilitasnya yang tinggi. Aren tumbuh baik di lahan kering beriklim basah, dengan curah hujan 1.000–1.500 mm per tahun dan kedalaman air tanah yang dangkal. Karena itu, aren cocok sebagai tanaman sela, tidak bersaing dengan tanaman pangan, dan bisa digunakan untuk konservasi lahan atau reboisasi.
Hampir seluruh bagian pohon aren bisa dimanfaatkan. Daunnya digunakan sebagai atap atau bahan sapu lidi, buahnya (kolang-kaling) menjadi camilan bernilai ekonomi, sementara batang dan akar membantu menjaga struktur tanah.
Namun, pengembangan industri hilirnya masih menghadapi kendala. Terbatasnya akses teknologi, pengemasan yang belum optimal, dan minimnya pemasaran membuat sebagian besar potensi belum tergarap maksimal.
“Kita butuh sistem manajemen produksi yang lebih baik. UMKM pengolah aren harus didampingi, kita bantu juga alatnya. Kutim tidak boleh hanya jadi penghasil bahan baku. Kita harus jadi pelaku ekspor,” tutup Aminuddin.
Dengan sinergi antara petani, kelompok tani, dan pemerintah daerah, Kutai Timur menatap masa depan aren sebagai komoditas strategis dengan daya saing nasional dan global. (ADV)




