
AKSELERASI, KUTIM – Di tengah gegap gempita penutupan Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025, kilau kain bukan berasal dari sutra atau beludru mahal, melainkan dari plastik bekas, kertas daur ulang, dan bahan tak terpakai lainnya. Inilah wajah baru ekspresi budaya anak muda Kutim—memanfaatkan limbah sebagai bahan dasar busana yang mencerminkan kepedulian dan kreativitas tinggi.
Digelar pada Minggu (23/11/2025) di Alun-alun Bukit Pelangi, malam penghargaan Festival Kutim tahun ini menyuguhkan pesan kuat: seni dan lingkungan bisa berjalan beriringan. Lomba Fashion Show Berbahan Limbah jadi pusat perhatian, memperlihatkan bagaimana sampah bisa menjelma jadi busana memikat yang penuh makna.
Dukungan pemerintah daerah terasa kuat melalui kehadiran Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Ketua TP PKK Siti Robiah yang langsung menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Mereka menyatakan komitmennya untuk terus mendorong ruang kreatif anak muda yang bersifat edukatif dan inspiratif.
“Kami ingin budaya lokal bisa terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya, dan itu bisa dicapai lewat kreativitas yang berkelanjutan,” ujar Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, dalam sambutannya.
Penampilan Keysha Adistia Amira sebagai Juara 1 memukau dewan juri dan penonton. Gaunnya yang elegan dibuat dari limbah plastik dan potongan kardus, dirancang dengan cermat untuk menyampaikan pesan ekologi. Sementara itu, Jasmine Syafiqa Fateen dan Siti Aisyah Hafidzah menempati posisi Juara 2 dan 3 dengan karya tak kalah menarik.
Festival ini tak sekadar panggung budaya, tapi juga ajang pencarian makna baru dalam kehidupan modern. Ketika limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa, melainkan sebagai sumber daya yang bisa membentuk identitas generasi muda, di situlah seni mendapat wajah baru—penuh kesadaran dan arah.
Penutupan Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 membawa pulang pesan yang kuat: merawat bumi dan budaya bisa dilakukan lewat satu tindakan yang sama—mencipta dengan hati. (ADV)




