AKSELERASI – Pada umumnya, penanganan bencana alam dibayangkan sebagai pekerjaan yang membutuhkan fisik yang kuat. Hal ini membuat profesi ini identik dengan kaum pria. Namun, ternyata ada satu srikandi yang berhasil membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi pahlawan penanggulangan bencana yang tangguh.
Sosok tersebut adalah Sindi Kartika Sary, satu-satunya perempuan yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur. Perempuan asal Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini memiliki fisik dan mental yang tak kalah tangguh dari pria.
Sindi mengawali kariernya di BPBD Kaltim pada tahun 2022. Ia berhasil lulus pelatihan fisik dan mental semi militer, serta menjadi satu-satunya perempuan Kaltim yang dinyatakan lulus dan masuk dalam Satgas Karhutlah 2023.
Sejak saat itu, Sindi sudah banyak terlibat dalam penanganan bencana di berbagai daerah di Kalimantan Timur. Ia pernah turun langsung memadamkan kebakaran lahan di Betapus Samarinda, membantu evakuasi warga terdampak banjir di Kutai Barat, dan membantu membersihkan puing-puing pascabencana gempa bumi di Paser.
Sindi mengaku bahwa ia memiliki hobi olahraga sejak kecil. Ia pernah meraih prestasi di Kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim pada tahun 2019 lalu.
“Enggak punya hobby atau koleksi yang girly banget. Karena dari kecil memang sukanya olahraga. Waktu sekolah juga aktifnya di paskibraka,” kata Sindi.
Satu tahun menjalani tugas lapangan membuat Sindi menjadi pribadi yang lebih peka sosial. Ia sering merasa tersentuh saat menyaksikan orang-orang terdampak bencana yang hanya bisa meratapi nasib.
“Terutama musibah kebakaran. Sedih banget sering lihat satu keluarga cuma bisa duduk nangis melihat rumah yang sudah hangus. Mereka bingung mau ke mana, minta tolong siapa,” lirihnya.
Tergerak rasa kemanusiaan itulah yang membuat Sindi memantapkan diri untuk terus menjadi bagian dari TRC PB BPBD Kaltim.
“Saya bangga menjadi TRCPB. Kekeluargaan, kekompakan, keikhlasan dalam bertugas dan saling menjaga membuat saya bangga bisa menjadi bagian dari BPBD,” kuncinya.
Kisah Sindi Kartika Sary ini menjadi bukti bahwa perempuan juga bisa menjadi pahlawan penanggulangan bencana yang tangguh. Ia telah menunjukkan bahwa gender bukanlah halangan untuk meraih cita-cita dan mengabdi kepada masyarakat. (ags/adv)




