Oleh:
Odjie Samroji
Mahasiswa Program Doktor Manajemen, Universitas Negeri Surabaya
Hari Ibu di Indonesia, yang diperingati setiap 22 Desember, biasanya hadir sebagai momen hangat dan personal: ucapan terima kasih, pelukan, dan perhatian kecil yang sering tertahan oleh rutinitas. Tetapi jika kita menoleh ke latar sejarahnya, peringatan ini menyimpan pesan publik yang lebih lebar daripada seremoni keluarga.
Tanggal 22 Desember diambil dari tanggal pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928, dan karena itu Hari Ibu pada dasarnya adalah hari yang didedikasikan untuk perempuan Indonesia, bukan sekadar perayaan peran domestik. Catatan di situs Museum Sumpah Pemuda (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) menegaskan keterkaitan tanggal tersebut dengan pembukaan kongres 1928. Penetapan resmi Hari Ibu sebagai salah satu hari nasional kemudian tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang hari nasional yang bukan hari libur.
Perspektif ini menjadi menarik ketika dipertemukan dengan strategic leadership. Kepemimpinan strategis adalah kemampuan memegang dua horizon sekaligus: tuntutan kinerja hari ini dan konsekuensi pilihan untuk masa depan. Strategi bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan pola keputusan yang konsisten, terlihat dari apa yang didanai, apa yang dihentikan, dan nilai apa yang dipakai ketika organisasi menghadapi dilema.
Di level praktis, pemimpin strategis membaca perubahan lingkungan dan risiko, membangun kapabilitas internal agar organisasi mampu mengeksekusi strategi, serta menjaga legitimasi melalui tata kelola yang dapat dipercaya. Tantangannya jelas: organisasi harus tetap efisien pada aktivitas yang sudah terbukti, tetapi juga cukup berani bereksperimen untuk menemukan cara baru yang relevan.
Spirit Hari Ibu menawarkan bahasa yang lebih manusiawi untuk memperkaya praktik kepemimpinan strategis. Kerja pengasuhan dalam kehidupan sehari hari sering tidak spektakuler, tetapi menentukan karena berfokus pada hal yang hasilnya tidak selalu cepat terlihat: kebiasaan belajar, ketahanan emosi, dan rasa aman untuk tumbuh. Dalam organisasi, padanannya adalah pembentukan kapabilitas dan budaya belajar. Visi besar tidak akan bergerak bila pengetahuan terkurung, orang takut berbagi pelajaran, atau kesalahan kecil selalu dibayar mahal.
Tinjauan sistematis di Gadjah Mada International Journal of Business menunjukkan bahwa keterlibatan pimpinan puncak dan strategic leadership berkaitan positif dengan proses knowledge management, terutama dalam mendorong aliran pengetahuan yang membuat organisasi belajar dan beradaptasi.
Di titik ini, “merawat” dalam organisasi seharusnya diterjemahkan menjadi dukungan yang nyata. Standar tinggi tetap penting, tetapi standar itu akan sehat bila disertai struktur yang membuat orang mampu mencapainya: pelatihan yang relevan, umpan balik yang adil, ruang untuk bereksperimen, serta perlindungan psikologis ketika orang mengakui masalah. Pemimpin juga perlu memastikan ketersediaan sumber daya dasar, dari waktu sampai alat kerja, agar strategi tidak berhenti menjadi tuntutan.
Penelitian di Journal of Indonesian Economy and Business memperlihatkan jalur yang relevan: kerja sama pemerintah desa dan kepemimpinan transformasional meningkatkan persepsi dukungan organisasi, lalu dukungan tersebut mendorong niat berbagi pengetahuan dan pada akhirnya memperkuat kapabilitas inovasi pelaku usaha. Walau konteksnya kewirausahaan perdesaan, pelajarannya universal: inovasi tumbuh ketika orang merasa didukung.
Spirit Hari Ibu juga mengingatkan sisi yang kerap paling sulit bagi pemimpin, yakni keberanian moral. Di ruang publik, merawat berarti berani melindungi yang rentan, menolak jalan pintas yang merusak, dan menjaga integritas ketika pilihan tidak nyaman. Dalam kepemimpinan strategis, etika bukan aksesori citra, melainkan infrastruktur kepercayaan. Kepercayaan menentukan apakah pelanggan tetap setia, apakah karyawan memberi usaha terbaiknya, dan apakah mitra bersedia mengambil risiko bersama. Terutama di era media online, kepercayaan mudah retak ketika organisasi tampak menghindar dari tanggung jawab.
Karena itu, keputusan strategis idealnya melewati uji sederhana: apakah keputusan ini transparan, adil, dan konsisten dengan janji organisasi kepada publik? Keberanian moral kadang berupa tindakan membatasi pertumbuhan yang terlalu agresif, memperbaiki proses yang tidak etis, atau mengakui kesalahan sebelum dipaksa keadaan.
Namun strategi juga tidak akan hidup jika visi tidak dapat diterjemahkan ke bahasa yang dipahami orang. Banyak organisasi punya visi yang terdengar indah, tetapi tidak menggerakkan karena berhenti sebagai jargon. Spirit Hari Ibu mengajarkan komunikasi yang memampukan: menjelaskan dengan jelas, mendengar tanpa defensif, dan menautkan keputusan dengan alasan yang masuk akal.
Kajian di Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang membandingkan kepemimpinan politik menempatkan visi dan performa komunikasi sebagai dimensi penting dalam membaca modal kepemimpinan. Pelajaran praktisnya, pemimpin strategis perlu menjaga konsistensi antara narasi dan keputusan.
Jika organisasi berkata “peduli pelanggan”, maka desain proses, target, dan insentif harus selaras. Komunikasi yang manusiawi bukan berarti menghindari data, melainkan menyajikannya dengan konteks dan empati, sehingga orang paham mengapa arah tertentu dipilih.
Pada akhirnya, merayakan Hari Ibu lewat kacamata strategic leadership adalah mengubah peringatan menjadi refleksi. Apakah organisasi kita lebih sering mengejar angka hari ini daripada membangun kapasitas besok? Apakah kita menuntut inovasi tanpa menyediakan dukungan dan ruang aman untuk belajar? Apakah kita menjaga etika hanya ketika mudah, atau juga ketika mahal?
Spirit Hari Ibu menantang pemimpin untuk melakukan pekerjaan yang paling sulit: menata masa depan sambil tetap merawat manusia yang menjalankan strategi. Organisasi yang benar benar strategis bukan hanya yang cepat menang, tetapi yang tetap layak dipercaya. Kepercayaan itu, seperti dalam pengasuhan, sering dibangun lewat hal kecil yang dilakukan konsisten: keputusan yang adil, dukungan yang nyata, komunikasi yang jujur, dan disiplin belajar dari pengalaman.
Dalam praktiknya, itu bisa berupa kebijakan kerja yang lebih sehat, rapat yang lebih jernih, dan keberanian menyederhanakan prioritas ketika semua ingin dikerjakan sekaligus. Jika Hari Ibu kita maknai sebagai penghormatan atas kerja merawat kehidupan, maka kepemimpinan strategis yang paling relevan adalah kepemimpinan yang berani merawat, bukan hanya mengatur. Selamat Hari Ibu! (*)




