
AKSELERASI, KUTIM – Upaya memajukan desa-desa di Kabupaten Kutai Timur terus berlangsung, namun sejumlah hambatan fundamental masih mengurung desa dalam ketergantungan ekonomi. Meskipun potensi pertanian, perikanan, hingga sektor budaya di berbagai wilayah cukup kuat, ketiadaan hilirisasi dan kepastian pemasaran dinilai membuat desa sulit berkembang secara mandiri. Penilaian ini disampaikan oleh Laurentius Martin, Kepala Desa Bumi Etam di Kecamatan Kaubun yang juga tokoh masyarakat pesisir Teluk Sangkulirang, saat menjelaskan tantangan pembangunan potensi desa di wilayah tersebut.
Martin menekankan bahwa kemandirian desa tidak hanya bertumpu pada proyek pembangunan atau program pelatihan, tetapi pada kemampuan desa menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) secara stabil. Menurutnya, desa hanya dapat disebut mandiri apabila memiliki perencanaan matang dan mampu menghasilkan pemasukan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa bergantung pada bantuan eksternal.
“Sebenarnya untuk memajukan desa itu, ujung-ujungnya desa harus menjadi desa yang mandiri. Dan desa yang mandiri itu paling tidak desa yang memiliki pendapatan asli desa yang bisa mengakomodir kepentingan masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa banyak desa masih terpaku pada pembangunan hulu, seperti peningkatan produksi pertanian dan pengembangan pelatihan UMKM. Namun, tanpa penguatan hilir sebagai penopang pemasaran, produk hanya berhenti sebagai barang mentah tanpa nilai tambah. Martin menyebut bahwa keberhasilan desa sangat ditentukan oleh kemampuan membangun jaringan pasar dan ruang hilirisasi.
Menurut Martin, sejumlah desa di Kutai Timur memiliki komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, hingga hasil laut. Namun potensi itu seringkali terhambat karena tidak adanya jalur pemasaran yang jelas. Ketika panen raya tiba, masyarakat kesulitan menjual hasilnya dan nilai ekonomi justru stagnan karena produk tidak terserap pasar.
“Hasilnya dipanen besar-besaran, tapi masyarakat sulit menjual. Potensi ekonomi mandek pada produksi saja, tidak ada sarana dan prasarana untuk menyerap hasil,” katanya.
Situasi ini, lanjut Martin, berdampak pada meningkatnya biaya penyimpanan dan risiko kerusakan, terutama pada komoditas seperti buah dan kakao yang memiliki masa simpan terbatas. Tanpa hilirisasi, beban produksi justru menekan petani dan pelaku usaha kecil.
Sejumlah pemerhati pembangunan desa menyebut bahwa hilirisasi menjadi kunci dalam mengubah potensi menjadi pendapatan nyata. Desa dinilai perlu mendorong pembentukan unit pengolahan, kerja sama dengan industri, hingga penguatan akses pasar digital untuk memaksimalkan nilai tambah. Selain itu, master plan jangka panjang dianggap penting agar desa dapat bergerak dalam arah yang konsisten dan terukur.
Dengan tantangan yang masih membelit desa-desa di Kutai Timur, pesan Martin menjadi pengingat bahwa potensi besar tidak akan berarti tanpa strategi hilirisasi yang jelas. Desa membutuhkan saluran pemasaran yang kuat agar produksi tidak lagi berhenti di hulu, melainkan mengalir menjadi kesejahteraan masyarakat. (ADV)




