AKSELERASI, Bontang – Kondisi keuangan daerah yang tengah mengalami defisit menjadi tantangan dalam pembangunan infrastruktur pendidikan di Kota Bontang. Salah satu dampaknya terlihat pada tertundanya perbaikan jembatan menuju Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Kota Bontang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Abdu Safa Muha, mengakui bahwa keterbatasan anggaran membuat sejumlah program harus diprioritaskan secara selektif, termasuk perbaikan fasilitas sekolah.
Dia mengatakan bahwa pihaknya kini mencari alternatif pembiayaan melalui kerjasama dengan perusahaan. “Dengan menggandeng perusahaan, kita berharap proses perbaikan bisa tetap berjalan meski anggaran terbatas,” jelasnya.
Abdu Safa Muha menambahkan bahwa pendekatan ini tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga mempercepat proses pelaksanaan di lapangan. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Red.), perlu kolaborasi agar kebutuhan mendesak seperti ini bisa segera ditangani,” terangnya.
Disdikbud Kota berencana membawa usulan ini ke forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) agar mendapat dukungan dari berbagai perusahaan yang beroperasi di Kota Bontang.
Abdu Safa Muha juga menegaskan bahwa jembatan tersebut sangat penting bagi kelancaran aktivitas pendidikan, sehingga tidak bisa dibiarkan dalam kondisi rusak terlalu lama.
“Dengan kondisi saat ini, kolaborasi dengan sektor swasta dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi keterbatasan anggaran,” tutupnya. (adv/red)




