22.3 C
Samarinda
Kamis, September 23, 2021

Buy now

spot_img

Di Film Internasional, Musisi asal Kalimantan Dapat Penghargaan

Seniman asal Pontianak, Nursalim Yadi Anugerah, meraih penghargaan di Castrovillari Film Festival –Italia– dalam kategori Best Original Score –Musik Terbaik– dalam sebuah film pendek ‘Rewild’ yang ia garap bersama rekan-rekannya.

AKSELERASI.ID – Yadi mengatakan film ini digarap atas kerja sama dengan Splash and Burn, ESCIF, Studio Birth Place (Kuala Lumpur), Sumatran Orang Utan Society (SOS), dan Orangutan Information Centre (OIC).

Yadi menceritakan, ‘Rewild’ digarap bertujuan untuk melakukan kampanye tentang upaya reforestasi 360 hektare area perkebunan sawit di perbatasan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). “Kawasan tersebut merupakan rumah bagi satwa-satwa yang dalam dekade terakhir terancam punah,” ucapnya.

Dalam projek ‘Rewild’ ini, kata Yadi, merupakan suatu upaya reforestasi yang dipresentasikan melalui simbol rewind, dengan menebang pohon-pohon sawit, sehingga jika dilihat dari langit, akan tampak simbol rewind berukuran besar. “Karya seni ini diinisiasi oleh seniman Ernest Zachrevic (Lithuanian, Red.) bekerjasama dengan ESCIF (Spanyol, Red.),” jelasnya.

Selain membuat simbol, Yadi mengatakan, ia bersama rekan-rekannya mendokumentasikan proses penebangan pohon-pohon sawit melalui film pendek yang bermuara pada karya ‘Rewild’. “Rewild diproduksi oleh Studio Birth Place (Kuala Lumpur, Red.). Melalui film ini saya turut berpartisipasi dalam komposisi musik yang dimainkan oleh Orkest de Ereprijs (Apeldoorn, Belanda, Red.),” paparnya.

Tujuan utama dari pembuatan karya tersebut adalah untuk memperluas area hutan di Kawasan Ekosistem Leuser dengan melakukan kampanye melalui karya seni. “Kami juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melaui website https://www.moretrees.info untuk berpartisipasi menanam pohon dalam jumlah yang lebih banyak,” ungkapnya.

Ide awal membuat film pendek tersebut, kata Yadi, dari upaya kampanye reforestasi, yakni mengembalikan lahan yang sekarang berupa kebun sawit kembali menjadi hutan. Disimbolkan dengan logo rewind (putar mundur). Kata rewind kemudian diplesetkan menjadi ‘Rewild’, sekaligus menjadi judul atau nama projek ini.

Pada dasarnya film tersebut tidak sekadar diciptakan untuk festival. Menurutnya festival-festival, serta ruang-ruang penayangan adalah upaya untuk mengamplifikasi karya dalam rangka kampanye lingkungan yang sedang inisiasi. “Namun dalam perjalanannya, karya ini beberapa kali memenangkan dan berpartisipasi dalam kompetisi,” ucapnya.

Film pendek tersebut berhasil meraih beberapa pengahargaan seperti Ecozine – Festival Internacional de Cine y Medioambiente (Spanyol), Festival International du Film d’Aubagne (Perancis), Dieciminuti Film Festival (Italia), Cinequest (Amerika Serikat), MInidoc (Spanyol), dan baru-baru ini memenangkan Musik Terbaik (Best Score) dalam Castrovillari Film Festival di Italia. Dalam bentuk instalasi imersif, karya ini juga ditampilkan pada screen wall (dinding layar) berukuran besar di area Oxford, Inggris.

Proses pembuatan film tersebut dilakukan pada akhir 2018, mulai dirilis premier di platform digital pada 20 September 2019. “Untuk dapat menonton karya ini, Anda dapat mengunjungi akun Youtube “Splash and Burn” dengan judul ‘Rewild’. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website projek kami di www.splashandburn.com,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
2,952PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles