AKSELERASI, Bontang – Penguatan soft skills kini menjadi fokus utama dalam pengembangan pendidikan nonformal di Kota Bontang. Keterampilan seperti komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis dinilai penting untuk menjawab tantangan masa depan.
Pelaksana (Plt) Kepala Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kota Bontang, Hairul Saleh, mengatakan bahwa pendekatan deep learning menjadi salah satu metode yang mampu mengintegrasikan soft skills dalam proses belajar.
“Peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama,” ungkapnya.
Dia menegaskan, pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada aspek kognitif. Sebaliknya, soft skills harus menjadi bagian utama dalam kurikulum pendidikan nonformal.
Dalam praktiknya, peserta didik diajak terlibat dalam berbagai aktivitas berbasis pengalaman. Mulai dari diskusi hingga proyek nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Hairul Saleh menilai, pendekatan ini mampu membentuk karakter peserta didik yang lebih siap menghadapi dunia kerja.
Namun, dia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam penerapan metode tersebut.
“Soft skills tidak bisa diajarkan secara instan, tetapi harus dibangun melalui proses yang berkelanjutan,” jelasnya.
Integrasi soft skills dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan, terutama di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Ke depan, SPNF SKB Bontang berkomitmen terus mengembangkan model pembelajaran berbasis pengalaman dan kolaborasi. Diharapkan, peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan hidup yang kuat sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. (adv/red)




